Urgensi Soft Skills Dalam Pendidikan di PT - Mukapedia

29 March 2019

Urgensi Soft Skills Dalam Pendidikan di PT

by: Akhmad Yafiz Syam *)

Pendahuluan

Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP – HELTS 2003-2010) Indonesia, telah mengindikasikan bahwa paradigma baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi memerlukan pendekatan yang sama sekali baru untuk mengantisipasi isu-isu penting pendidikan (DGHE, 2003).

Dampak globalisasi menyebabkan bergesernya peran institusi pendidikan tinggi dari traditional learning institutions menjadi knowledge creators, dari random planning ke strategic planning, dan dari comparative approach ke competitive approach. Dengan perubahan paradigma ini diharapkan pendidikan tinggi mampu meningkatkan daya saing bangsa, dengan dukungan organisasi yang sehat, serta proses pembelajaran yang tepat sehingga menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, institusi pendidikan tinggi menjadi salah satu ujung tombak dalam peningkatan daya saing bangsa, karena salah satu faktor kunci persaingan global adalah aspek sumber daya manusia.

Sumber gambar: www.te.ugm.ac.id

Saat ini dunia memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kreatifitas tinggi, penuh inisiatif, dan integritas, di samping kompetensi akademis dalam rangka memenuhi tugas dan tanggungjawabnya di setiap bidang kehidupan masyarakat. Untuk memenuhi ini, pendidikan tinggi harus senantiasa mengembangkan sistem pembelajaran yang dapat menyeimbangkan antara kebutuhan jangka pendek pasar kerja atas keahlian tertentu dan kebutuhan jangka panjang terhadap “soft skills” sebagai investasi masa depan (World Bank, 2002 dalam DGHE, 2003). Tuntutan tersebut tidak dapat dipenuhi hanya dari dalam kelas yang menyajikan “hard skills” yang menyajikan pengetahuan-pengetahuan faktual, tetapi juga experiential knowledge atau “soft skills” yang akan membantu mahasiswa agar familiar terhadap tekanan inovasi dan emosional selama mereka berinteraksi dengan masyarakat.

Nurudin (2004), dalam “Menggugat Pendidikan Hard Skill” mengungkapkan bahwa dunia pendidikan Indonesia dikejutkan oleh hasil penelitian dari Harvard University, Amerika Serikat. Penelitian itu mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Demikian pula survei yang dilakukan oleh National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 orang pemimpin tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan kerjasama, kemampuan interpersonal, beretika tinggi, inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detil, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi tinggi, kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Dalam penelitian tersebut mengindikasikan bahwa IP tinggi hanya menempati urutan ke 17. Ternyata prestasi akademis seseorang hanya sebagian kecil menunjang kesuksesannya, selebihnya didukung oleh soft skill secara dominan. Dengan demikian jelas bahwa soft skill menempati posisi strategis dalam membangun dan meningkatkan daya saing sumber daya manusia di tengah kehidupan ini.

 Pentingnya Soft skill

Berbagai iklan lowongan kerja yang setiap hari kita temukan di berbagai media, perusahaan-perusahaan yang merekrut calon karyawannya selalu menyebutkan persyaratan berikut: mampu bekerja dalam tim, sanggup bekerja keras, memiliki integritas, jujur, bertanggung jawab, dan sebagainya, baru kemudian menyebutkan syarat-syarat akademis.

Perusahaan cenderung memilih karyawan yang memiliki soft skill unggul meskipun hard skill nya rendah. Alasan logisnya adalah bahwa mendidik dan melatih keterampilan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan melatih dan mengembangkan karakter karyawan agar sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

Pada tahun 2001, sebuah perguruan tinggi terkenal di Indonesia menggelar pertemuan dengan stakeholders, penyedia lapangan kerja dan pengguna lulusannya. Pada kesempatan itu pihak rektorat menyampaikan imbauan kepada para pengguna, agar dunia bisnis memberikan masukan balik kepada perguruan tinggi dan perusahaan lebih banyak lagi menggunakan lulusan perguruan tingginya. Pertemuan dengan sedikitnya 10 mitra industri itu pada akhirnya membuahkan masukan balik terhadap perguruan tinggi tersebut.

Salah satu respon datang dari perusahaan Schlumberger, salah satu perusahaan multinasional. Wakil perusahaan itu menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi tersebut kurang tekun meniti karier, sehingga rata-rata memiliki progress career yang kurang baik. Dari 75% intake 20-an tahun lalu, hanya 38% yang mencapai posisi manajer ke atas. Meski memiliki intelegensia tinggi dan prestasi akademis yang baik, namun memiliki kelemahan dalam sisi kerja keras dan dedikasi.

Para ahli manajemen percaya bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, yang akan menang dan sukses di masa depan adalah yang memiliki keunggulan soft skill. Secara hirarki, semakin tinggi posisi seseorang di dalam piramida organisasi, semakin tinggi tuntutan terhadap soft skill yang dimilikinya. Pada posisi paling bawah, seorang karyawan rendahan tidak terlalu banyak menghadapi tuntutan masalah yang berkaitan dengan soft skill. Semakin ke atas, semakin kompleks masalah yang dihadapi, semakin besar tuntutan terhadap soft skill yang dimiliki seseorang. Seseorang yang berada di posisi manajerial harus berinteraksi dengan banyak orang, mengambil banyak keputusan penting, mengendalikan bawahan, kerjasama tim, menentukan prioritas, dan sebagainya. Semakin tinggi posisi manajerial seseorang di dalam piramida organisasi, maka soft skillmenjadi semakin penting baginya. Pada posisi ini dia akan dituntut untuk berinteraksi dan mengelola berbagai keadaan dan orang dengan berbagai karakter dan kepribadian. Saat itulah soft skill nya diuji.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa pentingnya soft skill dalam rangka pengembangan kualitas dan daya saing sumberdaya manusia kita. Khususnya bagi kalangan perguruan tinggi yang bertanggung jawab terhadap kualitas lulusannya, gelar yang disandang lulusan haruslah mengandung kompetensi tertentu yang sesuai dengan bidangnya. Kini institusi perguruan tinggi sudah saatnya mengembangkan makna kompetensi ke dalam definisi operasional yang lebih luas, dan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang menyajikan secara berimbang dan terpadu antara kompetensi hard skill dan soft skill.

Pakar kecerdasan emosional, Daniel Goleman (2002) menyatakan “kebanyakan program pelatihan (dan pendidikan) telah berpegang pada suatu model akademis, tetapi inilah kekeliruan terbesar dan telah menghamburkan waktu serta dana yang tak terhitung besarnya. Yang diperlukan adalah cara berpikir yang sama sekali baru tentang apa saja yang dapat membantu orang mengembangkan kecerdasan emosi mereka.”

Kompetensi Hardskill vs Softskill

Dalam dasawarsa ini, seluruh jenjang pendidikan mulai pra-sekolah (TK) hingga perguruan tinggi seakan berlomba-lomba menggali dan menyusun kurikulum pendidikan yang relevan dengan tuntutan terhadap kompetensi. Jadilah dikenal dengan sebutan kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Hal ini nampaknya juga diikuti oleh para orang tua murid, yang juga menyusun “kurikulum”nya sendiri dalam mendidik anak-anak mereka di rumah, menyesuaikan tuntutan kompetensi. Alasannya sederhana, agar anaknya tidak nampak bodoh di sekolahnya atau khawatir mendapat sindiran negatif bahwa “buah tak jauh dari pohonnya”.

Seringkali kita mendengar pertanyaan orang tua kepada anaknya sepulang sekolah:”berapa nilai matematikamu nak?”. Jika jawabnya “ sepuluh!”, maka orang tua senangnya bukan main, diberilah anaknya sanjungan dan hadiah. Tetapi akan terjadi hal sebaliknya jika nilai matematika yang diperoleh anaknya buruk. Orang tua akan sangat kecewa dan resah jika anaknya memperoleh nilai buruk dalam pelajaran yang mengasah intelektualitasnya. Jarang sekali atau bahkan tidak pernah kita mendengar orang tua bertanya: “siapa yang kau tolong hari ini nak?” atau “apakah kau hormat pada guru dan teman-temanmu?”. Pertanyaan-pertanyaan lain yang senada, mestinya dapat memotivasi anak mengembangkan kepekaan sosialnya dan menjaga kebersihan hati nurani mereka semakin jarang terdengar, manakala orang tua memahami kata ‘persaingan’ dan ‘daya saing’ sebagai ‘adu kekuatan’ inteligensia anak.

Sebagaimana para pendidik dan orang tua murid membicarakan KBK, para praktisi manajemen SDM di perusahaan sedang ramai membicarakan pengelolaan SDM berbasis kompetensi (CBHRM).

Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia karangan Wojowasito dan Purwadarminta, kompetensi berarti kemampuan, kecakapan. Namun di lapangan, praktisi SDM mendefinisikan kompetensi lebih luas lagi dengan pendekatan competency based human resource management(CBHRM), yaitu meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku. Sehingga dalam arti luas, kompetensi akan terkait dengan strategi organisasi, dan dipadukan dengan soft skill, hard skill, social skill, serta mental skill sumberdaya manusianya. Hard skill mencerminkan pengetahuan dan keterampilan fisik sumberdaya manusia, soft skill menunjukkan intuisi, kepekaan; serta social skillmenunjukkan keterampilan dalam hubungan sosial; sedangkan mental skill menunjukkan ketahanan mental sumberdaya manusia. Dengan pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia seperti ini, diharapkan perusahaan memiliki aset tidak berwujud yang menambah value perusahaan, memiliki daya saing tinggi dalam rangka mempertahankan eksistensi perusahaan. Karena dengan pengelolaan kompetensi karyawan yang tepat akan meningkatkan kinerja dan produktifitas perusahaan.

Sebutan hard skill secara umum berkaitan dengan sesuatu yang tampak (tangible) dan mudah diukur. Sementara soft skill lebih berkaitan dengan sesuatu yang tak tampak (intangible) dan tidak gampang diukur. Misalnya, seorang akuntan dalam menjalankan profesinya, harus menguasai teknik dan ilmu akuntansi, dan ditambah dengan penguasaan komputer atau teknologi informasi, kemampuan ini tergolong hard skill. Di samping itu, akuntan dituntut memiliki kecermatan profesional (professional care) sebagaimana disyaratkan dalam standar profesi, yang menuntut ketelatenan, kesabaran, ketelitian, kemampuan beradaptasi terhadap berbagai kondisi kerja yang relatif monoton, ketahanan terhadap stress pada saat beban kerja menumpuk, serta yang paling utama adalah kejujuran. Ditambah dengan kewajiban memenuhi kode etik profesi, kemampuan-kemampuan terakhir ini tergolong soft skill.

Jika dikaitkan dengan kecerdasan manusia, konsep tentang soft skill nampaknya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Sebagaimana diungkapkan oleh David Mc.Clelland (2002), secara umum soft skill dapat digolongkan ke dalam dua kategori: intrapersonnal skill dan interpersonnal skill . Intrapersonnal mencakup: self awareness (meliputi: self confidence, self assessment, trait and preference, emotional awareness) dan self skill (yang meliputi: improvement, self control, trust, worthiness, time management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonnal skill mencakup social awareness (meliputi: political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, emphaty) dan social skill (yang meliputi: leadership, influence, communication, conflict management, cooperation, team work, dan synergy).

Menurut Goleman (2002), kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keterampilan ini, memberikan seseorang peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi intelektual apapun yang barangkali telah dimiliki. Namun demikian apabila ada dua sikap moral yang dibutuhkan pada zaman sekarang, sikap yang paling tepat adalah kendali diri dan kasih sayang.

Goleman (2002) juga berpendapat, bahwa meningkatkan kualitas EQ (emotional quotient) sangat berbeda dengan IQ (intellectual quotient). IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup. Sementara kemampuan yang murni kognitif relatif tidak berubah (IQ), maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang itu peka atau tidak, pemalu, pemarah atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun, dengan motivasi dan usaha yang benar, seseorang dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi tersebut. Tidak seperti IQ, kecerdasan emosi ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup.

Umumnya kelemahan di aspek soft skill seseorang berupa karakter yang melekat pada dirinya yang sudah terbangun, sepanjang kehidupannya. Namun soft skill bukanlah stagnan, kemampuan ini dapat diasah dan ditingkatkan, melalui berbagai pengalaman hidup, pelatihan dan pembelajaran, serta continous improvement.

Ary Ginanjar Agustian (2001), yang menulis tentang ESQ (Emotional Spriritual Quotient) dalam buku “ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ” yang menyatakan selain EQ dan IQ terdapat SQ (spiritual Quetient). SQ merupakan kecerdasan bathiniah yang bersumber dari suara hati, yang merupakan anugerah ilahiah, dan secara ilmiah telah dibuktikan oleh Michael Persinger (1990), V.S Ramachandran dan kawan-kawan (1997), Danah Zohar dan Ian Marshall (2000), yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia. Penemuan ini menunjukkan bahwa pusat spiritual (God-spot–titik ketuhanan) ternyata telah built-in terletak di antara jaringan syaraf dan otak manusia. Temuan ini di dukung juga oleh Wolf Singer, 1990 (dalam Ary Ginanjar, 2001), yang membuktikan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberikan makna dari pengalaman hidup. Suatu jaringan syaraf yang secara literal ‘mengikat’ pengalaman kita bersama “untuk hidup lebih bermakna.” Di God-spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Dengan demikian untuk mencapai sukses seseorang harus mengasah kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), yang mengembangkan keunggulan soft skill manusia yang bersumber dari sifat-sifat ilahiah.

Pengembangan keunggulan pribadi seseorang berarti pengembangan karakter. Mengembangkan karakter menurut Stephen R. Covey (1994) dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People,” adalah dengan mengenali diri sendiri. Dan jauh sebelum para pakar berujar, Nabi Muhammad SAW telah mengatakan: “kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu.” (Al-Hadits). Dengan mengenali dirinya, manusia otomatis akan mengenali Tuhannya yang telah melimpahkan kepadanya berbagai potensi diri. Manusia yang sadar akan hal ini akan jauh dari sifat sombong, takabur, tinggi hati, iri-dengki, putus asa, tidak percaya diri, dan berbagai ‘penyakit’ hati lainnya. Penyakit hati merupakan tanda lemahnya kemampuan soft skill seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki soft skill tinggi, juga ditandai dengan ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengenali diri (self awareness) dan taqwa akan menimbulkan sikap ikhlas seseorang, sebagai sumber potensi soft skill yang luar biasa, dan dengan itu seseorang akan dapat mencapai kesuksesan abadi – dunia-akhirat (Erbe Sentanu,2008).

Demikian pula menurut Socrates: ‘kenalilah dirimu sendiri’ menunjukkan inti kecerdasan emosional, yaitu kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu timbul. Dengan mengenal diri akan tumbuh kesadaran diri yang tinggi, yaitu merupakan modus netral yang mempertahankan refleksi diri bahkan di tengah badai emosi.

Dari beberapa pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa soft skill sesungguhnya menyangkut keunggulan karakter yang dimiliki seseorang yang berasal dari kesadaran yang tinggi terhadap fitrahnya (self awareness) sebagai manusia yang menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai khalifah (leadership) di muka bumi.

Pembangunan Karakter bukan Pengembangan Kepribadian

Berdasarkan uraian di atas, maka soft skill sesungguhnya dapat diukur, melalui pengukuran pengembangan etika karakter seseorang. Etika adalah prinsip-prinsip moral yang mengukur baik dan buruk, salah dan benar. Etika karakter mengajarkan bahwa ada prinsip-prinsip dasar dalam kehidupan yang efektif, dan bahwa orang hanya dapat mengalami keberhasilan yang sejati dan kebahagiaan yang abadi jika mereka belajar dan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam karakter dasar mereka.

Etika kepribadian pada dasarnya mengambil dua jalan: satu adalah teknik hubungan manusia dan masyarakat, dan satunya lagi adalah sikap mental positip. Sebagian filosofi ini diekspresikan dalam pepatah berikut: “sikap Anda menentukan ketinggian posisi Anda,” “senyum menghasilkan lebih banyak teman daripada kerutan di dahi.” Filosofi ini tidak salah. Namun demikian pendekatan kepribadian dapat manipulatif, bahkan menipu, mendorong orang menggunakan teknik-teknik untuk membuat orang lain menyukai mereka, atau berpura-pura tertarik akan hobi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari orang tersebut, atau menggunakan “penampilan kekuaasan,” atau untuk menjalani kehidupan mereka dengan intimidasi. Banyak orang yang memiliki kepribadian menarik, tetapi ternyata koruptor kelas kakap, inilah yang terjadi di Indonesia.

Menurut Covey, etika kepribadian bukanlah primer, melainkan sekunder. Sedangkan etika karakter bersumber dari kumpulan kebiasaan yang dijalankan berulang-ulang. “ kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.” (Aristotle). Kebiasaan yang efektif menurut Steven R. Covey: sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan.” Pengetahuan adalah paradigma teoretis, tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.

Dari ketiga aspek tersebut terbentuklah kebiasaan, yang jika dilakukan berulang akan menciptakan keunggulan karakter seseorang. Oleh karena itu karakterlah yang harus dibangun dan dikembangkan terus menerus, sementara kepribadian karena bersifat sekunder, otomatis akan mengikutinya.

Implementasi Pendidikan dan Pelatihan Soft Skill di PT

 Secara singkat, tujuan pengajaran dan pembelajaran di pendidikan tinggi pada dasarnya telah melintasi spektrum yang meluas, dari pengetahuan faktual berbasis disiplin ke berpikir kritis, dan dari perilaku moral dan etika ke kesadaran berkewarganegaraan, dan inilah tujuan esensial dari pembelajaran di perguruan tinggi, sebagaimana diidentifikasi oleh Carnegie Foundation berikut.

Tujuan pendidikan tinggi menurut Carnegie Foundation (dalam Forest, Teaching and Learning in Higher Education, 1996):

  • menjamin bahwa mahasiswa tertarik dan termotivasi.
  • membantu mereka memperoleh pengetahuan dan mengembangkan pemahaman.
  • memungkinkan mereka menunjukkan pengetahuan dan pemahaman melalui prestasi dan tindakan,
  • mendorong mereka terlibat dalam refleksi kritis pada dunia dan tempat dimana mereka berada,
  • mengembangkan kemampuan mereka untuk mengendalikan keterbatasan dan kompleksitas dunia dalam memformulasi pertimbangan dan mendesain tindakan, dan
  • membantu mengembangkan komitmen jangka panjang untuk pengujian kritis dan pengembangan diri.

Menurut penelitian J.F Forest yang dipublikasikan dalam buku International Handbook of Higher Education (2006), fenomena pengembangan metode pembelajaran soft skill di perguruan tinggi telah lama dibicarakan, tidak saja muncul di AS dan Eropa Barat, tetapi juga seperti di Hongkong dan China, yang memunculkan konsep pembelajaran pelayanan (service learning), yang mengaitkan pelajaran disiplin dan pelayanan masyarakat melalui refleksi terstruktur. Service Learning dipandang sebagai sebuah metode pengajaran oleh banyak anggota staf pengajar dan instruktur yang percaya bahwa dengan integrasi antara pelayanan dan pengajaran akademis, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih lengkap terhadap materi perkuliahan (McGovern,2002 dalam Forest, 2006). Para praktisi service learning berusaha keras mendorong pengembangan mahasiswa sebagai warga negara yang aktif dan baik dengan menanamkan pada diri mereka suatu etika pelayanan. Sistem pembelajaran service learning ini mewajibkan mahasiswa mengikuti kegiatan pelayanan sosial dan publik, untuk mengasah kepekaan sosial, meningkatkan kesadaran diri, serta kewarganegaraan.

Di Indonesia pada umumnya menempatkan pendidikan dan pelatihan soft skill melalui kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dan ekstra kurikuler. Sedikit sekali tersaji dalam kurikulum wajib yang ditempuh mahasiswa. Akibatnya, hanya mahasiswa yang tergolong aktivis kampus yang mendapat porsi lebih banyak dalam melatih karakternya. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang tidak memiliki kesukaan berorganisasi? Bagaimana pula dengan perkuliahan ”kelas jauh” yang sekarang masih marak dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi?

Kemampuan soft skill seseorang bisa diasah dan ditingkatkan. Pengembangan soft skill dapat dilakukan dengan cara: pertama, dikembangkan sendiri melalui proses learning by doing, namun memerlukan waktu yang sangat panjang, sehingga kurang efektif. Cara kedua, yang paling umum dan sekarang ini telah menjamur adalah mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar yang ditawarkan oleh banyak lembaga. Soft skill training bisa dikaitkan sebagai pelatihan yang berorientasi pada pembangunan karakter, perubahan sikap, kepemimpinan, serta istilah lain yang mungkin masih ada namun pada intinya tidak jauh berbeda. Pelatihan-pelatihan tersebut sebagian besar sasarannya dikaitkan dengan program pengembangan SDM yang dibentuk sendiri maupun kerjasama oleh perusahaan-perusahaan kepada para eksekutif dan karyawannya.

Cara ketiga, adalah pelatihan dan pembelajaran di perguruan tinggi, dan menjadi urgen karena perguruan tinggi mengemban amanat accountabilty. Pendidikan dan pelatihan soft skill di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan: kurikulum, ekstra-kurikulum, dan penciptaan atmosfer akademik. Ketiga pendekatan ini merupakan basic character bagi filosofi the Real Campus dalam pendidikan tinggi. Karena jika perguruan tinggi hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis, tidak ubahnya seperti lembaga kursus.

Pendekatan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu bentuk implementasi otonomi perguruan tinggi. Sehingga dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan perubahan lingkungan. Pendekatan kurikulum akan sangat efektif jika didukung oleh sistem dan metode pembelajaran yang tepat serta sarana yang memadai. Terdapat beberapa alternatif dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan soft skill yang terintegrasi dalam kurikulum berikut:

  • Memasukkan materi soft skill sebagai bagian integral dengan berbagai materi lain yang tersaji dalam kurikulum.
  • Menyajikan mata kuliah Pembangunan Karakter (character building) di semester I hingga IV, secara wajib tempuh dengan non sks.
  • Mengintegrasikan evaluasi soft skill mahasiswa dengan sistem evaluasi belajar dalam fortofolio mahasiswa. Evaluasi belajar melalui portofolio ini akan dapat memberikan gambaran menyeluruh kompetensi yang dimiliki mahasiswa untuk menentukan kelayakan kesarjanaan yang akan diperoleh.

Pendekatan Ekstra Kurikulum

Melalui pendekatan ini, soft skill mahasiswa diasah dalam berbagai bentuk kegiatan terpadu di unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan organisasi kemahasiswaan yang ada. Beberapa perguruan tinggi melaksanakan pendekatan ini dengan mewajibkan mahasiswa agar aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler di sepanjang masa studinya. Di akhir masa studinya, sebelum menempuh ujian skripsi, mahasiswa menyerahkan evaluasi diri yang dibuatnya di bawah pengawasan pembimbing akademik. Hasil evaluasi diri yang telah memenuhi syarat, menjadi prasyarat ujian skripsi.

Atmosfer Akademik

Pendekatan ini bukan merupakan alternatif dari beberapa pendekatan sebelumnya. Tetapi justeru menjadi pendukung atas pendekatan lain yang digunakan. Di sini merupakan ujian bagi efektifas fungsi organisasi perguruan tinggi untuk menciptakan atmosfer yang tepat bagi pengembangan soft skill dan hard skill mahasiswa. Atmosfer akademik menjadi ladang pengalaman belajar yang baik bagi mahasiswa, dengan melihat, merasakan, dan membuktikan langsung praktek-praktek baik (best practise) ketika berinteraksi dengan sesama mahasiswa, karyawan, dosen, serta para pemimpin institusi. Oleh karena itu pada institusi yang atmosfer akademiknya buruk, akan memberikan contoh soft skill yang buruk bagi mahasiswa. Sikap dan perilaku pengajar, karyawan, para pemimpin dalam aktivitas kampus sehari-hari dilihat langsung oleh mahasiswa sebagai contoh konkrit, dan jelas akan memengaruhi kualitas learning by doing mereka.

Penutup

Pendidikan tinggi menjadi salah satu ujung tombak dalam rangka penciptaan daya saing bangsa melalui produk-produknya. Diantaranya adalah kualitas sumber daya yang dihasilkan dari proses pembelajaran yang diselenggarakan pada pendidikan tinggi. Dunia memerlukan sarjana-sarjana yang mampu memenuhi tugas dan tanggungjawabnya berdasarkan kreatifitas dan inisiatif, di samping kompetensi akademis. Untuk memenuhi ini, perguruan tinggi harus mengembangkan sistem pembelajaran yang dapat menyeimbangkan soft skills dan hard skill. Tuntutan tersebut dapat dipenuhi melalui pendekatan kurikulum, ekstra kurikulum, dan penciptaan atmosfer akademik yang kondusif bagi pengembangan karakter mahasiswa.

Tujuan pengajaran dan pembelajaran pada pendidikan tinggi telah melintasi spektrum yang meluas, dari pengetahuan faktual berbasis disiplin ilmu ke berpikir kritis, dan dari perilaku moral dan etika ke kesadaran berkewarganegaraan, dan inilah tujuan esensial dari pembelajaran di pendidikan tinggi. Dengan kata lain, mahasiswa harus mendapatkan soft skill di kampus, baik melalui pembelajaran tersendiri maupun secara terintegrasi dengan mata kuliah lainnya, serta interaksi dalam kehidupan kampus yang sesungguhnya (the Real Campus).

Referensi

Ary Ginanjar Agustian, 2001, ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, Penerbit Arga, Jakarta.

Burton R. Clark, 2001, Creating Entrepreneurial Universities:Organizational Pathways of Transformation, IAU Press, Netherdlands.

Daniel Goleman, 2002, Emotional Intelligence, terjemah: T. Hermaya, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Dewi Irma, 2007, dalam “Lulusan PT Butuh Soft Skill,”www. Pikiran_rakyat.com, edisi Juni 2007.

DGHE, 2003. Higher Education Long Term Strategy (KPPTJP – HELTS 2003-2010), www.diknas.co.id

Erbe Sentanu, 2008, Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

James J.F. Forest and Philip G. Altbach, International Handbook of Higher Education: Global Themes and Contemporary Challenges.Springer, Netherlands.

Michael Shattock, 2003, Managing Successful University, McGraw-Hill, NY.

Nurudin, 2004, dalam “Menggugat Pendidikan Hard Skill,” www. Pikiran_rakyat.com, edisi Juni 2007.

Stephen R. Covey, 1994, The Seven Habits of Highly Effective People, terjemah: Budijanto, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Comments


EmoticonEmoticon