Apa Itu Coaching? Beberapa Definisi Coaching - Mukapedia

30 March 2019

Apa Itu Coaching? Beberapa Definisi Coaching

Apa Itu Coaching? Beberapa Definisi Coaching

Beberapa Definisi Coaching:

  • Coaching menurut ICF (International Coach Federation) adalah “A Partnering with clients, in thoughts-provoking, an creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential”.
  • Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (klien) (Grant, 1999)
  • Kunci pembuka potensi seseorang untuk  memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya (Whitmore, 2003).
  • Seni memfasilitasi kinerja, pembelajaran dan pengembangan orang lain (Downey, 2003)

Jadi Coaching secara umum dapat diartikan sebagai sebuah kerjasama dan proses kreatif yang tujuannya adalah menginspirasi, memprovokasi serta mengeksplorasi dan memberdayakan potensi personal/profesional  coachee secara terarah dan terukur, dengan teknik yang dikuasai Coach.

Beda Antara Coaching dan Kegiatan Sejenis

Saat ini di Indonesia istilah Coaching sudah banyak dibicarakan. Tetapi masih banyak yang salah paham.

Coaching bukanlah Consulting, bukan Counseling, bukan Mentoring, juga bukan Training.

Consulting lebih menekankan pada solusi (solution provider), penyelesaian masalah (problem solver) dan mereka melakukannya untuk klien (do it for you). Sehingga consulting ini lebih pada memberikan ikan daripada mengajari mengail.

Training lebih menekankan pada sharing and transfering  knowledge/skills. Seorang Trainer bertanggungjawab untuk mentransformasikan knowledge/skills tertentu kepada trainee. Tujuan  training adalah mengubah orang dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa (secara teknis) menjadi bisa.

Coaching lebih menekankan pada re-educating, mengekspolrasi dan memberdayakan sumberdaya-sumberdaya (exploring dan empowering of resources), orientasinya pada hasil (results) dengan berfokus pada proses yang terarah dan terukur. Coaching lebih pada membimbing coachee mengail ketimbang memberi ikan.


  • Seorang terapis akan menggali apa yang membuat Anda berhenti mengemudikan mobil Anda
  • Seorang konselor akan mendengarkan kegelisahan Anda tentang mobil
  • Seorang mentor Akan membagikan cara-cara mengemudikan mobil berdasarkan pengalaman pribadinya
  • Seorang konsultan akan memberikan nasehat kepada Anda bagaimana mengemudikan mobil yang baik
  • Seorang coach akan memberikan dorongan dan semangat kepada Anda untuk mengemudikan mobil 

Kategori Coaching:

  • Personnal/Life Coaching : Coaching untuk meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, karir, pengembangan profesi,  pengembangan diri, keluarga, dan lain-lain.
  • Business Coaching adalah aktivitas coaching yang dilakukan oleh Coach dengan pemilik/pelaku bisnis dengan tujuan meningkatkan performa bisnisnya sesuai yang dikehendaki oleh klien. 
  • Executive Coaching adalah aktivitas coaching yang diperuntukkan kepada para eksekutif perusahaan. Dalam hal ini (biasanya) pemilik bisnis (business owner) hanya menjadi sponsor, yang memfasilitasi para eksekutifnya untuk dilatih (coaching) dengan tujuan peningkatan performa personal maupun organisasional. 

Penelitian Tentang Efektivitas Business Coaching dan Executive Coaching

Penelitian yang dilakukan oleh Manchester Inc.’s (Business Wire, 4 Januari 2001) yang mengambil sampel 100 eksekutif perusahaan untuk mengukur efektivitas dan peningkatan produktivitas ketika mereka menggunakan metode Coaching. Mereka diberikan Change-oriented Coaching dan Growth-oriented Coaching selama 6 hingga 12 bulan. Dan hasilnya:

1. Terdapat peningkatan produktifitas sebesar 53%

2. Peningkatan kualitas kinerja sebesar 48%

3. Peningkatan penguatan organisasi 48%

4. Pelayan pada pelanggan meningkat 39%

5. Penurunan tingkat komplain sebesar 34%

6. Peningkatan hubungan dengan pelanggan 37%

7. Mereduksi biaya sebesar 23%

8. Peningkatan keuntungan usaha sebesar 22%

9. Peningkatan hubungan kerja dengan atasan langsung ( pendapat 77% eksekutif)

10. Peningkatan hubungan kerja dengan supervisor 71%

11. Kerjasama Tim meningkat 67%

12. Kepuasan kerja meningkat 61%

13. Menurunkan konflik sebesar 52%

14. Meningkatkan komitmen organisasional sebesar 44%

Penelitian lain:

  • 93% manajer percaya bahwa coaching harus diberikan kepada semua karyawan tanpa memandang senioritas (Industrial and Commercial Training, 2002)
  • 93% manajer SDM Jerman menilai coaching sebagai metode yang berguna (PEF, 2005)
  • 99% organisasi di Inggris yang menggunakan coaching menyatakan coaching dapat memberikan keuntungan yang nyata bagi individu dan organisasi (Jarvis, 2004)

Banyak lagi penelitian lainnya yang membuktikan secara empiris tentang manfaat dan efektivitas coaching. Dari gambaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa coaching memiliki dampak yang sangat signifikan dibandingkan dengan metode lainnya dalam melakukan perubahan.  Oleh karena itu coaching adalah sebuah pilihan tepat untuk meningkatkan performa baik secara personal maupun organisasional.

BAGAIMANA COACHING DI LAKUKAN?

1. One on One Coaching.

Dalam coaching seorang coach hanya berhadapan dengan satu orang coachee.

2. Group Coaching.

Dalam coaching, seorang coach  berhadapan dengan lebih dari satu coachee.

Ada 3 proses dalam coaching : Pre-Coaching, Coaching dan Post-Coaching. Pada fase Pre-Coaching diawali dengan melakukan evaluasi atau diagnosa permasalahan sehingga coach  mendapatkan gambaran jelas pada bagian-bagian yang mana yang perlu improvement segera, serta persetujuan perjanjian coaching antara coach dengan klien. Pada fase Coaching adalah proses penggalian dan pemberdayaan potensi, sehingga klien menemukan pilihan-pilihan solusi dan mampu mengambil keputusan untuk melakukan eksekusi dari pilihan solusi tersebut. Sedangkan fase Post-Coaching adalah pengukuran atau evaluasi terhadap proses coaching yang telah dilakukan.

Coaching dilakukan secara reguler, umumnya 2 kali pada setiap bulan, setiap sesi coaching berdurasi 2-3 jam. Ketentuan coaching akan dituangkan dalam Perjanjian Program Coaching.

BERAPA LAMA IDEALNYA COACHING DILAKUKAN?

Sebenarnya tidak ada batasan waktu ideal dalam hal coaching ini. Klien bisa mengikuti program coaching sesuai kebutuhannya. Umumnya,  minimal program coaching yaitu 3 (tiga) bulan, dan sesudahnya dapat dievaluasi, klien berhak menentukan untuk berhenti  atau melanjutkan program coaching. Dalam kenyataannya, karena bagi beberapa orang, coaching adalah hal yang relatif baru, 3 (tiga) bulan pertama tersebut adalah waktu penyesuaian, namun tidak sedikit pula yang merasakan impact dari coaching secara signifikan di 3 (tiga) bulan pertama tersebut.

SKALA USAHA/BISNIS SEPERTI APA YANG LAYAK MENGIKUTI PROGRAM  BUSINESS COACHING?

Keputusan layak atau tidaknya mengikuti program coaching tidak ditentukan dari seberapa besar skala usaha/bisnisnya, tetapi lebih pada seberapa besar pencapaian yang dikehendaki dan seberapa berartinya pencapaian tersebut bagi klien. Anda tidak perlu mengikuti program coaching jika pencapaian yang Anda inginkan itu tidak cukup berarti untuk Anda wujudkan.

Alasan Business Owner yang membutuhkan program coaching, diantaranya:

  1. Ingin memecahkan masalah pencapaian  laba  yang dirasa belum optimal, bahkan menurun.
  2. Ingin memecahkan masalah-masalah  pengelolaan  keuangan.
  3. Ingin memenangkan persaingan usaha.
  4. Ingin  mengembangkan organisasi yang lebih  efektif dan efisien.
  5. Ingin meningkatkan kemampuan kepemimpinan (leadership skill) yang  lebih efektif
  6. Ingin meningkatkan kemampuan manajerial  yang lebih maju dan efektif.
  7. Ingin meningkatkan kinerja karyawan .
  8. Ingin memecahkan masalah turn-over karyawan
  9. Ingin melakukan ekspansi  usaha.
  10. Ingin melipatgandakan profit secara signifikan.
  11. Ingin melakukan perluasan pasar (ekspansi pasar).
  12. Ingin memperbesar “market share”.
  13. Ingin memiliki team work  yang solid dan efektif.
  14. Ingin membangun sistem organisasi  dan akuntansi yang tepat, sehingga  bisnis tetap terkendali meskipun tanpa keterlibatan pemilik (business owner) secara langsung.
  15. Ingin mereduksi biaya-biaya.
  16. Ingin menciptakan suasana yang kondusif dalam aktivitas pekerjaan.
  17. Ingin mengembangkan entrepreneurship mindset yang lebih kuat.

Dan lain-lain…
Comments


EmoticonEmoticon